“Terbenam dan Tersingkir di Surga”

image6

matahari sore membakar udara
mengepisodekan merpati putih
yang melihat dikejauhan

keberagaman, kedamaian, keindahan
yang terkoyak nafsu-nafsu manusia

mengilustrasikan buruh
menghalusinasikan penderitaan nelayan
mengencingi mimpi-mimpi petani
dan merobek-robek harapan minoritas

tuhan, mengapa kau pergi?
kembalilah!, kami merindukan mu
kami merindukan harmoni
yang kau nyanyikan
saat fajar mulai tenggelam

— puisi pernah dimuat di sediksi.com pada 20-02-2017

Advertisements

Sebuah Anekdot yang Aktual

“Kamu butuh uang kan?“
“Ya jangan banyak bicara”
“Segera kerjakan, segera lupakan, gitu aja kok repot”

Mariam meringis, mendengar ucapan bertubi-tubi dari majikan tua dan majikan muda membuatnya mual. Memang hidup tak bisa memilih, namun mengapa dia selalu ada di posisi yang merugikan, pikir mariam.

Kemarin malam, Santoso mengajaknya pergi ke pertemuan buruh, katanya di sana bakal ada pemimpin besar yang membawa perubahan pada dunia buruh. Tapi Mariam menolak, ia sudah tak lagi percaya dengan messiah-messiah yang ada di kitab suci. Bagi Mariam, bekerja keras dan bertahan selama satu bulan dari kelaparan merupakan berkah tersendiri, sebuah “auto-messiah”, demikian mariam mengutip koran bungkus kacang.
***
“Kadangkala hidup memang tidak adil”
“Tapi itu bukan salah tuhan, kalian sendiri yang memilihnya”
“Kebetulan saja, kami berada di pihak yang beruntung”
“Segera bekerja, segera terlupa, gitu aja kok repot”

Mariam kembali meringis, setiap mendengar majikan tua dan majikan muda bicara, hatinya tersayat. Namun bagaimana lagi, bukankah arang tetap hitam, tapi bisa memanaskan ruang yang dingin?, mariam mngingat nasehat ibunya.

Hari itu juga Santoso megajaknya kembali ke pertemuan buruh. Kita berdua tertindas kan? Tapi mengapa kita tetap diam? Sudah seharusnya kita melawan, meratakan upah dengan cinta dan kasih sayang. Kita tidak akan terlunta-lunta begini, ayolah Mariam!, Santoso memaksa, Mariam tetap diam.

“Aku ingin jadi Penulis saja, san”
“Melestariakan penderitaan dalam kata, sebagai bekal untuk generasi mendatang”
“Aku tak mau berjuang, bukan karena ku tak percaya pada perjuangan”
“Aku melihat realita yang ada dan… ini bukanlah saat yang tepat, kita ditakdirkan untuk diam”
***
Hari itu hujan berwarna merah darah, Santoso diam menangis, mengenang Mariam yang diam dan terbunuh dalam diam.

KEBUDAYAAN SAMIN : DIFUSI DAN PENGHALANG PERSEBARANNYA (

artikel ini merupakan tugas kuliah, dan oplosan dari beberapa artikel lainnya (peace :D)

“KEBUDAYAAN SAMIN”

DIFUSI DAN PENGHALANG PERSEBARANNYA

 

Muhammad Asyrofi Al-Kindy
130721616006
Pendidikan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial,
 Universitas Negeri Malang
 

 

Ajaran Samin (disebut juga Pergerakan Samin atau Saminisme) adalah salah satu suku yang mendiami area di sekitar perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah bagian utara, suku ini adalah keturunan pengikut Samin Surosentiko yang mengajarkan dan mengamalkan sedulur sikep (Benda, 1969: 207-216) , sejenis anarko-pasifisme lokal di mana mereka mengobarkan semangat perlawanan terhadap Belanda dalam bentuk tanpa kekerasan yang terwujud dalam aksi menolak membayar pajak, menolak aturan-aturan pemerintah kolonial hindia belanda dan menentang pembukaan hutan secara besar-besaran oleh pemilik konsesi partikelir Belanda.

Samin Surosentiko lahir pada 1859 di Desa Ploso Kedhiren, Randublatung, Kabupaten Blora dengan nama Raden Kohar. Keluarga Samin Surosentiko merupakan salah satu dari keluarga bangsawan Jawa, namun ketika Kohar muda melihat penderitaan rakyat di sekitarnya, dia memutuskan untuk mengasingkan diri dan mengubah namanya menjadi Samin Surosentiko yang menghilangkan gelar kebangsawannya serta mengembangkan ajaran pemberontakan terhadap penjajah secara pasif yang disebut Sedulur Sikep.

Pokok-pokok ajaran Sedulur Sikep secara  filosofis, terdiri atas 6 aspek (Suyami, 2007:29), yakni :

  1. Agama iku gaman, Adam pangucape, man gaman lanang

(Agama adalah senjata atau pegangan hidup)

 

  1. Aja drengki srei, tukar padu, dahpen, kemeren. Aja kutil jumput, bedhog nyolong

(Jangan menggangu orang, jangan bertengkar, jangan suka iri hati. Jangan suka mengambil milik orang lain)

 

  1. Sabar lan trokal empun ngantos drengki srei, empun ngantos riyo sapada empun ngantos pek-pinepek, kutil jumput bedhog nyolong. Napa malih bedhog colong, napa milik barang, nemu barang teng dalan mawon kulo simpangi

(Berbuatlah sabar dan jangan sombong, jangan mengganggu orang, jangan takabur, jangan mengambil milik orang lain, apalagi mencuri, mengambil barang sedangkan menjumpai barang tercecer di jalan dijauhi)

 

  1. Wong urip kudu ngerti uripe, sebab urip siji digawa salawase

(Manusia hidup  harus memahami kehidupannya, sebab hidup sama dengan roh hanya satu dan  dibawa abadi selamanya)

 

  1. Wong enom mati uripe titip sing urip. Bayi uda nangis nger niku sukma ketemu raga. Dadi mulane wong niku mboten mati. Nek ninggal sandhangan niku nggih. Kedah sabar lan trokal sing diarah turune. Dadi wong, salawase dadi wong

(Kalau anak muda meninggal dunia, rohnya dititikan ke roh yang hidup.Bayi menanggis itu tanda bertemunya roh dengan raga. Karena itu roh orang meninggal tidaklah meninggal, hanya menanggalkan pakaiannya. Manusia hidup harus sabar dan tawakal untuk keturunannya. Jadi roh itu tidak mati, melainkan berkumpul dengan roh yang masih hidup. Sekali orang itu berbuat baik, selamanya akan menjadi orang baik)

 

 

  1. Pangucap saka lima bundhelane ana pitu lan pangucap saka sanga bundhelane ana pitu (ibaratnya orang berbicara dari angka lima berhenti pada angka tujuh dan angka Sembilan juga berhenti pada angka tujuh, dengan kata lain merupakan isyarat atau simbol bahwa manusia dalam berbicara harus menjaga mulut)

 

Pada intinya ajaran Samin Surosentiko menyangkut tentang nilai-nilai kehidupan manusia. Ajaran tersebut digunakan sebagai pedoman bersikap dan  bertingkah laku, khususnya harus selalu hidup dengan baik dan jujur untuk anak keturunannya. Ajaran samin merupakan gerakan meditasi dan pengerahan kekuatan batiniah untuk memerangi hawa nafsu.

 

Ajaran Samin yang berisi falsafah hidup, merupakan nilai-nilai luhur yang sangat berguna di masyarakat, namun berbeda dalam prakteknya sebagai gerakan perlawanan terhadap penjajah, orang samin akan “terkesan” serampangan dan semau gue, sebagaimana diutarakan oleh Sastroatmodjo, gerakan perlawanan Samin memiliki tiga unsur, yakni:

 

  1. Gerakan ini mirip organisasi ploretariat kuno yang menentang sistem feodalisme dan kolonial dengan kekuatan agraris terselubung .
  2. Aktivitas kontinyu; sepanjang yang dideteksi pihak aparat pemerintah terbukti bahwa gerakan ini bersifat utopis, bahkan tanpa perlawanan fisik yang mencolok.
  3. Tantangan yang dialamatkan kepada pemerintah yang diperlihatkan dengan prinsip “diam”, dengan tidak bersedia membayar pajak, membayar tiket kereta  api, menyumbang tenaga untuk negeri, menjegal peraturan agrarian dan terlampau mendewakan diri sendiri.

 

Gerakan inilah yang kemudian menjadi stereotipe orang samin di masyarakat umum (Sastroatmodjo, 2003:11-12), di mana orang-orang samin dianggap sebagai kelompok orang yang tidak mau membayar pajak, sering membantah dan menyangkal peraturan yang telah ditetapkan, sering keluar masuk penjara, sering mencuri kayu jati dan perkawinannya tidak dilakukan menurut tatacara agama islam. Hal Inilah yang menjadi penghalang sosial (social barrier) bagi difusi kebudayaan samin

 

Sebagai reaksi dari sentimen negatif di masyarakat, saat ini wong samin tidak lagi ingin dipanggil wong samin, tetapi lebih suka kalau dipanggil wong sikep. Mereka beranggapan samin sering dikonotasikan negatif. Beberapa dari mereka juga mengatakan alasan masyarakat samin tidak mau dipanggil wong samin karena identik dengan perbuatan tidak terpuji. Orang Samin lebih suka dipanggil wong sikep karena sikep diartikan sebagai orang yang mempunyai rasa tanggung jawab atau orang yang bertanggung jawab.

 

Selain faktor sosial, yang menyebabkan kebudayaan orang Samin tidak atau lambat berdifusi adalah faktor wilayah tempat kebudayaan Samin berkembang. Samin Surosentiko mulai mengembangkan ajarannya di daerah Klopoduwur, Blora, Jawa Tengah. Daerah ini merupakan Zona Kendeng  yang juga sering disebut Pegunungan karst Kendeng  yang merupakan antiklinorium berarah barat-timur. Pada bagian utara berbatsan dengan Depresi Randublatung, sedangkan bagian selatan bagian jajaran gunung api (Zona Solo). Zona Kendeng merupakan kelanjutan dari Zona Pegunungan Serayu Utara yang berkembang di Jawa Tengah. Mandala Kendeng terbentang mulai dari Salatiga ke timur sampai ke Mojokerto dan menunjam di bawah alluvial Sungai Brantas, kelanjutan pegunungan ini masih dapat diikuti hingga di bawah Selat Madura. (Van Bemmelen, 1949)

 

Morfologi Blora terdiri atas dataran rendah dan perbukitan dengan ketinggian 20-280 meter dpl. Bagian utara merupakan kawasan perbukitan, bagian dari rangkaian Pegunungan Kapur Utara. Bagian selatan juga berupa perbukitan kapur yang merupakan bagian dari Pegunungan Kendeng,  menyebabkan aksesbilitas ke daerah ini terbatas, selain itu Ajaran Samin yang hanya disebarkan melalui ceramah dari rumah ke rumah  juga meperlambat mobilitas penyebaran kebudayaan orang samin.

Sampai sekarang  Ajaran Samin dan Orang Samin hanya berdifusi pada radius kurang dari duaratus kilometer dari Blora, tepatnya di Tapelan (Bojonegoro), Nginggil dan Kelopoduwur (Blora), Kutuk (Kudus), Gunung Segara (Brebes), Kandangan (Pati) dan Tlaga Anyar (Lamongan). Walaupun Kebudayaan Samin sudah berdifusi, untuk saat ini sulit untuk menemui ajaran samin yang masih eksis dan menjadi falsafah hidup warganya. Dari sedikit yang masih menerapkan ajaran ini tersebar di wilayah Blora dan Pati, terutama banyak di jumpai di Klopoduwur, Blora.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Benda, Harry; Lance Castles. 1969. “The Samin Movement”. Bijdragen tot de Taal-, Land- en      Volkenkunde: 207–216, 218–240.

Sastroatmojo, Soerjanto. 2003. Masyarakat Samin. Yogyakarta: Penerbit Narasi

 

Suyami, ed. 2007. Kearifan Lokal di Lingkungan Masyarakat Samin Kabupaten Blora Jawa Tengah. Yogyakarta: Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Blora